Posts

MENGGIGIL DI DINGIN HAMBAR

Image
  malam hari, dingin terpukul angin,  dingin malam meresap hangat teh terpaksa memeluk selimut, angin mengirim dingin dingin-dingin mulai menggigil tubuh terasa dingin walau berselimutkan panas   aku memesan secangkir teh tenang dan juga mimpi yang sempurna untukku bersenandung pilu namun tak ada, justru aku meriasi wajahku dengan mendung   pagi melankoli membeli sekantong air mata untuk hangat ku di malam nanti agar mata air terus mengalir sunyi tuk sekedar melelehkan bahagia yang membeku   Sidoarjo, 2026

BERPUASA DI NEGERI PUAKA

Image
  Banyak yang percaya kalau saat puasa jin terkurung dalam sengsara tak bisa menyulut cacar sengau dengan jejak jelak di neraka   aku berjalan di belantara iman penuh dengan monumen penggoda yang meriaskan rupa bara bertemu puaka haram yang sedang menikmati dosa yang lezat   tanpa sadar jika ia memakai gincu jahanam yang akan membakar kepercayaan menjadi abu bercampur khianat pada-   sang pemberi nikmat dan memesan tiket menuju tempat paling nyaman                       : bagi sang penggoda.   Sidoarjo, 2026.  

ASMARA CEMARA JELATA

Image
  Fajar memeluk aroma petrikor petrikor menyeduh jiwa hangat hangat cumbana dari sang kunci nirwana menyapa surya yang masih mendengkur di ufuk awan,   ku mulai dengan menyapa para rumput dengan irama harsa, kuberlari mencari fajar budi tuk menisik fajar sejati sembari berdendang fantasi dan mengurung mimpi.   Melihat asap sedap yang kerap membanjiri mulut, pesona rasa yang menggelitik perut kecil dengan penasaran yang mendelusi netra kecil yang menapaki dapur melihat telur yang kabur dan tersungkur ; di mulut.   Bapakku yang mulai menunggangi kuda besinya, sontak aku lansung melambaikan tangan yang melemparkan doa-doa harapan dan asa,   yang akan menemanimu bersama rahmat esa di kicauan angin  membentuk rupa angan di uluh hati.   Waktu sudah habis termakan oleh fajar, ia sudah tergelincir bulan suara rumah tuhan yang menandakan batas riang terpecah rona tuhan.   Prosedur mimpi-...

TIDUR SAHAJA

Image
rindu dengan senang senang dengan sedih sedih dengan amarah amarah dengan murka murka dengan menangis menangis dengan sendu sendu dengan sakit sakit dengan tidur tidur dengan nyenyak nyenyak dengan mimpi sakit demam bagai tubuh berkobar bara akhirnya sampai pada puncak tenang                          : pada akhirnya tidur nyenyak dalam pelukan selimut dan tenang dengan senandung irama ibu Sidoarjo, 2026  

PAGI CERAH SINAR MENTARI

Image
Di depan pintu, aku menghirup gairah rona ilmu yang semerbak luas di depan pinta, aku menguras rasa malas yang mulai redup di puncak uluh   di dataran papan tulis, ku dalihkan dawat-dawat menjelma pelita asa yang menolak nestapa membangun asrama ilmu pengetahuan merajut asmara antara; buku dan kata   menebas kemalasan yang menutupi jalur alur yang mengalir dengan bergilir di hilir lajunya pelajaran   netra yang memandang dawat merasuki jemari tangan tuk melukis materi, di buku catatan hajat yang membisukan hujat seraya gelora yang mengisi daya tubuh   Kuangkat makanan otak yang lezat serta para organnya yang mulai lepas “kemana perginya sandangmu?” aku bertanya padamu dan mulai merabah   balai ucang usang yang menyimpan kenangan gamang di ujung tahun yang berisi halaman hasil tubuhmu   damba hamba pada kuasa ingin mudah memeluk huruf-huruf ; yang merakit pintar di ujung kantuk kelopak lengking ...

MERANGKUL WANGI KUSUMA

Image
  kita bersatu dalam ritme bahagia tuk terpetik tangkai cerita pada pekarangan yang kita sebut pertemanan. waktu memburu haru dalam deru di ladang luas di lapang nostalgia   kita bersatu dengan makna-makna hidup bagai ikatan pita tak akan putus tuk tersimpul janji di kelingking nan wangi   musim meriah kemarau bergurau di remang-remang bayang aku memetik senang berhanyut riang besama   semesta merestui pertemuan, lewat senandung kusuma abadi menghiasi netra kita pernah punya hari kita pernah punya temu kita pernah punya cakap, canda-tawa menghapus sunyi   adalah ketulusan yang menumbuhkan benih percaya di antara jiwa-jiwa] secangkir diskusi dan senyum berseri kunikmati rasa yang merangkul, menjadi hidangan di perjamuan diri pun juga terbangun monumen memori   kita bersatu dalam wangi harmoni yang merangkai nada-nada dengan percaya yang menulis notasi kasih agar terhapus kamus duka. ...