ASMARA CEMARA JELATA


 

Fajar memeluk aroma petrikor

petrikor menyeduh jiwa hangat

hangat cumbana dari sang kunci nirwana

menyapa surya yang masih mendengkur

di ufuk awan,

 

ku mulai dengan menyapa para rumput

dengan irama harsa, kuberlari mencari

fajar budi tuk menisik fajar sejati

sembari berdendang fantasi

dan mengurung mimpi.

 

Melihat asap sedap yang kerap

membanjiri mulut, pesona rasa yang menggelitik

perut kecil dengan penasaran yang mendelusi

netra kecil yang menapaki dapur

melihat telur yang kabur dan tersungkur

; di mulut.

 

Bapakku yang mulai menunggangi

kuda besinya, sontak aku lansung

melambaikan tangan yang melemparkan

doa-doa harapan dan asa,

 

yang akan menemanimu bersama

rahmat esa di kicauan angin

 membentuk rupa angan

di uluh hati.

 

Waktu sudah habis termakan

oleh fajar, ia sudah tergelincir bulan

suara rumah tuhan yang menandakan

batas riang terpecah rona tuhan.

 

Prosedur mimpi-mimpi telah melangkah

bersama sayap ibu, yang diiringi

senandung inti rindu, untuk hari esok

diatas tilam yang mengarungi

taman sukma kita untuk beristirahat.

 

Yang tersimpan pada saraf-saraf lantunanmu.

 

 

Sidoarjo, Oktober 2025 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MERANGKUL WANGI KUSUMA

TIDUR SAHAJA

PAGI CERAH SINAR MENTARI